Selasa, 21 Januari 2020

Sulit Dapat Solar, Petani Beduri Utara Beramai-ramai Beralih Pakai Pompa Listrik

Meteran Listrik Sawah

Teknologi membuat hidup kita lebih mudah! Setidaknya itu yang dirasakan para petani di Beduri Utara setelah sawahnya bisa mendapat aliran listrik melalui Program Listrik Masuk Sawah. Jika dulu ada Program Listrik Masuk Desa, sekarang di Beduri ada Program Listrik Masuk Sawah. Mantap!

Program Listrik Masuk Sawah, yang kini semakin populer di berbagai wilayah di Kab Ponorogo, tidak terlepas dari dua permasalahan yang melatarbelakanginya. Pertama, karena petani semakin sulit mendapatkan BBM (solar) dari SPBU. Kedua, biaya penggunaan pompa listrik dinilai lebih murah dan lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan pompa diesel.

Karena dua pertimbangan diatas, beberapa petani di Beduri Utara berinisiatif mengganti pompa dieselnya dengan pompa listrik. Para petani kemudian menunjuk salah satu warga untuk menjadi mediator yang bisa menghubungi pihak PLN Ponorogo untuk merealisasikan rencananya.

Murdjono
Murdjono, salah satu warga yang ditunjuk itu, selanjutnya menghubungi pihak PLN, melalui PT Srikandi, sebagai rekanan PLN.

Kepada Beduri Berkarya, Murdjono yakin Program Listrik Masuk Sawah ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani di Beduri Utara. Dari sisi biaya, penggunaan pompa listrik bisa menekan biaya hingga 40%-50% dibanding penggunaan pompa diesel.

Dia mencontohkan, kalau menggunakan pompa listrik, biaya energi untuk 1 ha/ 1 x musim panen tidak lebih dari Rp1,1 juta. Sementara jika menggunakan pompa diesel, biayanya bisa mencapai 3 juta/1 ha/1 x panen.

“Selain itu, operasionalnya juga lebih mudah, tinggal pencet tombol, pompa sudah nyala. Tidak perlu mengengkol setiap kali mau dinyalakan,” ujar Murdjono.

Murdjono melaporkan jumlah petani di Beduri Utara yang sudah menggunakan pompa listrik sebanyak 65 orang. Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah, mengingat berbagai keuntungan yang didapat dengan menggunakan pompa listrik. 

Dikatakan, saat ini hampir semua sawah di wilayah Beduri sudah menggunakan pompa listrik. Berdasarkan pantauan Beduri Berkarya, saat ini setiap petani di Beduri Utara menggunakan daya listrik yang beragam, tergantung dari kebutuhan atau jenis pompa yang digunakan.

Untuk petani yang masih menggunakan diesel dan berniat untuk beralih ke pompa listrik, berikut kisaran biayanya:

NO.
BESARAN
DAYA
UANG MUKA (Rp)
TOTAL
BIAYA (Rp)
1
1.300 VA
2.000.000,00
3.300.000,00
2
2.200 VA
3.000.000,00
4.300.000,00
3
3.500 VA
4.000.000,00
5.500.000,00

Namun, Murdjono mengingatkan, untuk panjang kabel aliran listrik dari tiang sampai ke lokasi sawah, dari PLN hanya tersedia 25-30 meter.

“Artinya, kalau ada lokasi sawah yang membutuhkan ukuran kabel lebih dari 30 meter, maka biaya kelebihannya ditanggung masing-masing petani,” kata dia.

Dia berharap, dengan adanya Program Listrik Masuk Sawah, hal itu bisa mengatasi kelangkaan pasokan air yang selama ini sering dikeluhkan para petani. Selain itu, petani tidak lagi menunggu antrian panjang di POM hanya untuk beli solar.***


HIPPA Ponorogo Terima Bantuan Proyek Pembangunan Irigasi Tersier

Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembangunan saluran irigasi di sawah Beduri Utara
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan para petani, salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menggelontorkan sejumlah bantuan proyek pertanian.
Salah satu bentuk bantuan pertanian kepada para petani adalah berupa bantuan proyek pembangunan irigasi tersier.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) belum lama ini telah memberikan bantuan proyek pertanian kepada sejumlah kabupaten di Jawa Timur, salah satunya adalah Kabupaten Ponorogo.

Bantuan yang diterima oleh Himpunan Petani Pengelola Air (HIPPA) Ponorogo tersebut lebih ditekankan untuk pembangunan irigasi. Hal tersebut dikarenakan saluran irigasi di beberapa lokasi persawahan khususnya di wilayah Beduri, Kecamatan Ponorogo, mengalami kerusakan.  

Hari Santoso
Sekretaris HIPPA, Hari Santoso, di Beduri (2/12), mengatakan petani di Beduri menerima bantuan dari pemerintah senilai Rp187 juta untuk pembangunan irigasi tersier.

“Sebenarnya, bantuannya sebesar Rp195 juta, namun setelah dipotong pajak dan BOP, tinggal Rp187 juta. Jadi dana yang kami terima Rp187 juta itu,” jelas Hari.

Dia mengungkapkan Kementerian PUPR menggelontorkan dana secara bertahap. Dan untuk pembangunan irigasi tersier sawah di wilayah Beduri Utara adalah  tahap kedua.

Hari menyebutkan bahwa untuk menerima dana itu, HIPPA harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain  memiliki akte notaris tentang akta pendirian HIPPA, memiliki rekening lembaga (HIPPA), serta memiliki NPWP atas nama lembaga dan Ketua HIPPA.

Hari menuturkan dalam penetapan lokasi pembangunan proyek irigasi, HIPPA sebagai penerima bantuan harus berkonsultasi dengan pihak pendamping.

Intinya, HIPPA tidak boleh membangun irigasi di sembarang tempat tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan pendamping.

Sementara itu, proyek pembangunan irigasi ini dilakukan secara swakelola. Tujuannya, untuk memberdayakan masyarakat Beduri sendiri.

“Kita akan libatkan semua, termasuk penyandang disabilitas kalau bisa ikut bekerja biar ada penghasilan,” kata dia. 

Hari berharap proyek ini akan selesai pada akhir bulan ini, sesuai target yang direncanakan.
Program HIPPA dinilai sangat membantu petani. Dengan adaya perbaikan saluran irigasi tersier, hal itu akan membuat aliran alir menjadi lebih lancar.

Program ini sekaligus dapat mencegah terjadinya kebocoran pada saluran air. Termasuk, mengurangi potensi pencurian air oleh petani.***

Untuk informasi lain tentang Beduri silakan klik DISINI


Tahun 2019, Play Group Aminah Raih Status Akreditasi BAN PAUD

Partisipasi PG Aminah dalam rangka Hari Anak Nasional Kecamatan Ponorogo

Sebuah prestasi gemilang baru saja diraih Play Group (PG) Aminah Beduri. Pada 2019, Sekolah PAUD kebanggaan warga Beduri itu naik status menjadi Play Group Terakreditasi B.  Kepastian kenaikan peringkat PG Aminah diperoleh setelah Badan Akreditasi Nasional (BAN) mengumumkan SK Penetapan Status Akreditasi PAUD Tahun 2019. 

Dwi Setyowati, salah satu tenaga pengajar di PG Aminah, di Beduri (5/12), mengaku sangat bangga dengan prestasi yang diraih PG Aminah. Dikatakan, prestasi ini tidak terlepas dari kerja keras semua pihak, terutama guru dan  wali murid, yang ingin bersama memajukan sekolahan ini. “Dalam lima tahun terakhir puncaknya memperoleh akreditasi B dari BAN pusat,” ujar Dwi.

Dengan memperoleh status terakreditasi B berarti PG Aminah sudah memenuhi standar kualitas pendidikan yang ditetapkan pemerintah melalui BAN. Menurut Dwi, bukan jamannya lagi seorang meremehkan keberadaan Play Group, karena pengelolaan administrasinya sudah seperti pengelolaan Sekolah TK. Misalnya, setiap hari harus menyusun RKH dan punya kurikulum sendiri. 

“Jadi jelas, dalam satu tahun ke depan mau apa, itu sudah direncanakan sejak awal,” tuturnya.

Meskipun demikian, Dwi mengakui masih banyak yang harus dibenahi. Dia mengakui, fasilitas yang dimiliki PG Aminah masih sangat minim. Misalnya, belum ada kamar mandi, gudang, dapur, dan lain-lain. 

Padahal, katanya, fasilitas-fasilitas itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan Akreditasi A. Selain minimnya fasilitas umum, dari sisi administrasi juga masih perlu perbaikan, terutama terkait dengam tupoksi guru.

Sementara itu, Dwi melaporkan perkembangan jumlah siswa PG Aminah dari tahun ke tahun mengalami pasang surut (fluktuatif).

Meskipun demikian, setiap tahun jumlah siswa di taman bermain ini selalu diatas 12 siswa. Itu artinya, PG Aminah sudah memenuhi standar minimal jumlah siswa, sebagaimana yang dipersyaratkan Dinas Pendidikan. Seperti tahun ini, jumlah siswa turun dibanding tahun 2018. “Tahun 2018 dapat 20 siswa, tahun ini dapat 13,” katanya.

Mengapa ada syarat minimal jumlah siswa? Menurut Dwi, 12 siswa adalah persyaratan minimal untuk mendapatkan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP). Sejak 2017, PG Aminah selalu mendapatkan BOP dari Diknas Ponorogo.

Selain dana BOP, pemerintah juga menganggarkan dana insentif dari APBD yang diberikan kepada tenaga pengajar PG Aminah yang terdaftar dan sudah memiliki masa pengabdian selama minimal 2 tahun. “Sayang, dana ini tidak bisa turun setiap tahun, seperti umumnya dana hibah yang tidak bisa diberikan secara terus menerus,” pungkas Dwi.

Dwi Setyowati
Namun, dana BOP itu juknisnya sudah sangat jelas. Hanya untuk pengadaan alat permainan edukatif (APE) dan buku-buku pelajaran. Dia menegaskan tidak boleh untuk pembelian yang lain, seperti peralatan elektronik atau perkakas mebeler. 

Sesuai juknis, guru berhak mendapatkan uang transport bulanan dari dana BOP yang besarannya ditentukan oleh Diknas.

Dwi mengaku keuangan PG Aminah cukup minim dan tidak bisa mengandalkan biaya operasional hanya dari SPP siswa sebesar Rp30 ribu/bulan. Apalagi, ada kegiatan makan bersama sebanyak 4 kali/bulan. Hal ini tentunya semakin menambah beban keuangan PG Aminah.

Namun, saat ini ada kerjasama yang baik dari wali murid, dimana untuk kegiatan makan bersama diserahkan ke wali murid. “Artinya, sudah tidak lagi menjadi tanggungan sekolahan, melainkan sudah diserahkan ke masing-masing wali murid,” katanya.

Mencari donatur juga bukan perkara mudah. Sehingga untuk mengatasi minimnya dana, pihak sekolahan mensiasatinya dengan mengadakan rekreasi atau kegiatan amal secara rutin (setiap hari Rabu).    

Tapi, Dwi mengaku bangga, karena dengan segala keterbatasannya, siswa-siswa PG Aminah tetap bisa berprestasi di tingkat kecamatan kota, bahkan tingkat kabupaten.

Seperti pernah menjadi Juara I Lomba Estafet Air Tingkat PAUD di Kecamatan Ponorogo. Juga, pernah menjuarai Lomba Tahfidz dan Lomba Mewarnai Tingkat Kecamatan dengan meraih masing-masing Juara 2 dan Juara 3.

Sementara itu, untuk meningkatkan jumlah siswa, kata Dwi, pihak sekolah telah melakukan berbagai macam promosi. Misalnya, dengan mencetak brosur, datang langsung ke kegiatan Posyandu, atau berkeliling menyebarkan brosur.

Namun, diakui, upaya yang dilakukannya kurang berhasil karena sebagian besar orang tua saat ini lebih memilih menyekolahkan anaknya langsung ke TK.*** 























Warga RT 01/03 Renovasi Gedung PG Aminah

Gedung Play Group Aminah Setelah Direnovasi
Pengurus Play Group (PG) Aminah bekerjasama dengan LPMK Kelurahan Beduri berhasil menyelesaikan pembangunan perbaikan gedung PG Aminah.

Perbaikan berupa penggantian atap, dari atap kayu menjadi atap baja ringan itu menghabiskan dana sekitar Rp41 juta yang diperoleh dari Anggaran Dana Kelurahan Beduri Tahun 2019.

“Selain penggantian  atap, tembok yang sudah nampak kusam juga dicat kembali,” ujar Mujiono, Ketua RT 01/03, di Beduri (1/12).

Mujiono mengatakan pelaksanaan renovasi tersebut menghabiskan waktu sekitar satu bulan, dimana tim pelaksananya berasal dari warga di sekitar play group. Menurut dia, pengerjaannya sengaja dikebut agar sekolahan bisa segera di tempati dan anak-anak tidak berlama-lama numpang belajar di rumah warga.

Dia berharap dengan adanya perbaikan ini akan semakin menambah semangat belajar-mengajar para guru dan anak-anak ke depannya. 

Dikatakan, PG Aminah saat ini sudah terdaftar di Diknas Ponorogo. Dengan statusnya itu, sekolah ini berhak mendapatkan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD.
Namun, dia mengakui, dana yang berasal dari  DAK Non Fisik Kabupaten Ponorogo tersebut, sama sekali belum mencukupi untuk biaya operasional sekolah.

Meskipun demikian, dia berharap para guru bersedia bekerja dan mengabdi sepenuh hati untuk kemajuan pendidikan khususnya di Kelurahan Beduri.

Sejarah  Pendirian
Mujiono pun bercerita ikhwal berdirinya playgroup ini. Menurut dia, sejarah berdirinya PG Aminah di Beduri dilatarbelakangi oleh kondisi pendidikan di Kelurahan Beduri yang mengalami kemunduran pada saat itu.

MUJIONO
Pada awal 1980-an kondisi pendidikan di Beduri (SD Beduri, red.) cukup baik, sehingga bisa menampung anak-anak sekolah yang berasal dari luar Beduri, seperti dari Kel. Keniten.

“Perkembangan selanjutnya, SD Beduri justru mengalami kekurangan murid, karena anak-anak Beduri justru sekolah di luar Beduri, seperti SD Keniten atau SD Mangkujayan,” kenang Mujiono.

Melihat kondisi pendidikan di Beduri yang mengalami kemunduran, kata Mujiono, BKM dan beberapa orang warga Beduri yang peduli dengan masalah ini berinisiatif mendirikan sebuah lembaga pendidikan di lingkungan Beduri. Tujuannya untuk menampung anak-anak Beduri agar bisa sekolah di lingkungan sendiri.

Alhasil, berkat kerja keras semua pihak, akhirnya di Beduri bisa berdiri sebuah sekolah usia dini, yang selanjutnya diberi nama “Play Group Aminah”. Berdiri pada 2011, sekolah ini dibangun diatas tanah wakaf dengan status pinjam pakai selama 20 tahun.

Sekolah ini dibangun dengan menghabiskan dana sekitar Rp62,5 juta. Dari dana sebesar itu, sebanyak Rp45 juta merupakan bantuan dari PNPM, sedangkan sisanya merupakan swadaya murni masyarakat yang ada di dua lingkungan, yakni lingkungan RT 01/03 dan RT 05/03 Kel. Beduri.
 
Kini, sekolah itu sudah berdiri. Tugas kita, kata Mujiono, adalah merawat dan menjaganya agar anak-anak tetap nyaman belajar di Play Group Aminah. “Ini aset kita yang berharga, kita sendiri yang harus merawat dan menjaganya,” pungkas Mujiono.***

Warga Jalan Manyar Perbaiki Jalan Lingkungan

Kondisi Jalan Manyar di RT 03/03 Gagan Setelah Diperbaiki

Jalan Manyar yang berada di wilayah RT 3/3 juga termasuk salah satu titik lokasi yang diperbaiki dengan menggunakan Anggaran Dana Kelurahan Beduri 2019.  

Perbaikan akses jalan yang berada di lingkungan Gagan tersebut menghabiskan anggaran senilai Rp 24,8  juta yang diperoleh dari Anggaran Dana Kelurahan Beduri 2019.

 “Dana tersebut sepenuhnya diperoleh dari Dana Kelurahan Beduri melalui LPMK Kelurahan Beduri,” kata  Suwondo, Ketua RT 03/03 kepada Beduri News (16/12).

Suwondo mengatakan alokasi dana tersebut dipergunakan untuk perbaikan ruas jalan gang Manyar sepanjang 275 meter. Dipilihnya titik ruas Jalan Manyar, menurut dia, karena kondisi jalan tersebut sudah lama rusak dan cukup mengganggu aktivitas warga yang melalui jalan tersebut.

SUWONDO
Ketua RT mengatakan untuk perbaikan jalan lingkungan tersebut, warga sepakat menggunakan konstruksi paving, karena beberapa pertimbangan.  Penggunaan paving dinilai lebih awet dan tahan lama, serta dari sisi pengerjaan pun relatif mudah dan praktis dibanding menggunakan beton/cor.

Dia menuturkan untuk sistem pengerjaannya proyek perbaikan jalan lingkungan tersebut menggunakan sistem swakelola dengan memberdayakan masyarakat setempat. 

Selain melalui swakelola, warga juga dilibatkan untuk kerja bakti. Menurut dia, kerja bakti ini merupakan salah satu cara agar warga merasa ikut memiliki akses jalan tersebut.

Dia pun bersyukur warganya masih kompak untuk diajak kerja bakti. Sehingga tidak semua pekerjaan diselesaikan dengan mengeluarkan biaya. 

Bahkan, lanjut Suwondo, berkat kerja bakti, jalan yang diperbaiki bisa lebih panjang. “Dari LPMK hanya dapat jatah 260 meter. Namun kami dapat menambah 15 meter sehingga jadi 275 meter (jalan yang diperbaiki),” katanya.

Dikatakan, itu semua karena kerja bakti. Dana yang seharusnya buat bayar tenaga kerja, bisa dialihkan untuk beli material. Kebersamaan seluruh warga untuk perbaikan jalan ini juga menjadikan pengerjaan proyek ini bisa selesai lebih cepat dari waktu yang ditentukan. 

“Hanya dikerjakan 10 hari, lebih cepat jika mengacu pada SOP yakni 20 hari,” jelas Suwondo.

Dia mengatakan pihaknya akan kembali melanjutkan perbaikan jalan, khususnya untuk pengecoran bagian pinggir untuk memperkuat konstruksi paving. 

Suwondo berharap setelah jalan diperbaiki seluruh warga dapat menjaga dan merawatnya. Sehingga kondisi paving block tetap awet dan tertata rapi. *** 


Klik DISINI untuk informasi yang lain di Beduri



Dapat Dana Kelurahan, Warga Jalan Johan Perbaiki Jalan Lingkungan dan Saluran Drainase

Proyek Perbaikan Jalan Pavingisasi di Jalan Johan

 
Beduri mengalokasikan Dana Kelurahan Tahun 2019 senilai Rp94,1 juta untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur di sejumlah titik di RW 03 Beduri.

Salah satu RT yang tahun ini menerima kucuran Dana Alokasi Umum (DAU) Tambahan untuk Dana Kelurahan dari Kementerian Keuangan RI adalah RT 05 RW 03 Kelurahan Beduri.

Sugiyono
Ketua RT 05/03, Sugiyono, di Beduri (8/12), menyatakan pihaknya menerima dana bantuan dari pemerintah pusat melalui Kelurahan Beduri senilai Rp28,9 juta setelah dipotong pajak. Oleh warga yang berada di Jalan Johan, dana tersebut dipergunakan untuk perbaikan jalan serta pembangunan saluran drainase. “Dananya kami gunakan untuk pavingisasi dan buat drainase,” ujar Sugiyono.

Dia mengatakan jalan yang diperbaiki dengan pavingisasi dengan panjang 155 meter serta pembangunan saluran drainase sepanjang 153 meter.

Dia mengungkapkan jalan tidak hanya di-paving namun juga dicor. Untuk alokasi anggaran dana pengecoran diambilkan dari alokasi dana untuk tenaga kerja.

Sugiyono kemudian menjelaskan cara pengerjaan kedua proyek tersebut. Yakni, untuk pembangunan drainase dilakukan secara swakelola dengan memberdayakan warga setempat. Sedangkan untuk pembangunan jalan paving dilakukan secara kerja bakti.

“Alhamdulillah warga guyup rukun mau diajak kerja bakti, sehingga dana yang seharusnya buat bayar tukang karena dikerjakan gotong royong bisa buat dana cor,” kata dia.

Berkat dukungan dan kerja keras seluruh warga, pengerjaan proyek akhirnya bisa selesai tepat waktu sesuai tenggat waktu yang ditetapkan. Dalam SOP, pengerjaan dua proyek itu harus selesai dalam 20 hari dan warga bisa menyelesaikannya tepat waktu.

Dia mengaku puas dengan pekerjaannya dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah, terutama pihak Kelurahan Beduri, yang tahun ini mengalokasikan Dana Kelurahan di lingkungannya.

Dia pun berharap tahun depan bisa kembali mendapatkan kucuran dana dari pemerintah pusat. “Kalau dapat bantuan lagi rencananya mau kami buat cor untuk jalan tembus ke Kelurahan Keniten,” pungkasnya.


Untuk informasi lain tentang Beduri bisa dibaca disini!

LAPORAN PENGERJAAN PROYEK DANA KELURAHAN BEDURI T.A. 2019 DI WILAYAH RW 03




Kelurahan Beduri Ponorogo mengucurkan dana sedikitnya Rp94,1 juta (setelah dipotong pajak) untuk membiayai pengerjaan sejumlah proyek perbaikan infastruktur jalan lingkungan dan gedung sekolah di wilayah RW 03 Kelurahan Beduri.  Dana tersebut diperoleh dari alokasi Dana Kelurahan Beduri 2019.

Pengerjaan proyek perbaikan fasos/fasum di RW 03 dilakukan dengan melihat skala prioritas. Artinya, titik/lokasi mana yang paling mendesak untuk segera diperbaiki, itu yang didahulukan.

Untuk tahun ini, dana kelurahan yang dialokasikan di RW 03 dipergunakan untuk memperbaiki sejumlah fasum/fasos di tiga RT, yakni RT 01, RT 03, dan RT 05.
Untuk realisasi pengerjaan di masing-masing RT adalah sebagai berikut.

Warga RT 01/03 memperoleh alokasi dana kelurahan senilai Rp41 juta. Dana tersebut kemudian dipergunakan untuk perbaikan gedung Play Group Aminah (pergantian atap dan dinding).

Untuk wilayah RT 03/03, dana kelurahan tersebut dipergunakan untuk perbaikan akses jalan berupa pavingisasi. Nilai proyeknya sebesar Rp24,8 juta.

Terakhir, RT 05/03, yang berlokasi di Jalan Johan, memperoleh kucuran dana kelurahan senilai Rp28,9 juta. Oleh warga jalan Johan, dana tersebut kemudian dipergunakan untuk perbaikan jalan serta saluran drainase.

Selain di RW 03, dana kelurahan juga dialokasikan ke RW 1. Di RW tersebut, dana kelurahan kemudian disalurkan ke RT 1/1 untuk pembuatan talud dan perbaikan jalan (paving) dan RT 2/1 untuk perbaikan jalan.

Kementerian Keuangan melaporkan pemerintah akan kembali mengalokasikan Dana Kelurahan pada 2020. Nilainya sebesar Rp3 triliun yang akan dibagikan ke 8.212 kelurahan di seluruh Indonesia. ***



Pemerintah Ingatkan Pentingnya PAUD Bagi Perkembangan Anak Usia Dini


Penampilan Anak-Anak PAUD Aminah saat acara Syukuran Akreditasi

Play Group (PG) Aminah Beduri Ponorogo menggelar acara Syukuran Akreditasi PAUD PNF Nilai B di Gedung PG Aminah, Beduri, Senin (20/1/2020). Hadir pada acara tersebut, Penilik PAUD Kecamatan Ponorogo, Perwakilan dari Lurah Beduri, Ketua PKBM Aminah, Pengurus PG Aminah, serta wali murid.

Dalam sambutannya, Penilik PAUD Kec Ponorogo, Siti Nuraini, menyatakan PG Aminah tidak akan mendapatkan Akreditasi B tanpa ada bantuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak terkait dan masyarakat. Dalam 10 tahun terakhir, lanjut Nuraini, PG Aminah sudah bisa disejajarkan dengan PG yang ada di Kec Ponorogo. “Ini prestasi yang luar biasa dan tidak mudah mencapainya tanpa ada kerja keras semua pihak, terutama tenaga pendidiknya,” katanya.

Siti Nuraini
Nuraini menyebutkan di wilayah Kec Ponorogo saat ini terdapat 37 PG. Dari jumlah tersebut, 14 PG sudah memperoleh akreditasi, dengan rincian Akreditasi A sebanyak 2 PG, Akreditasi B (11 PG), Akreditasi C (1 PG). Sedangkan 23 sisanya masih belum diakreditasi. Dia berharap semua PAUD di Kec Ponorogo bisa segera mendapatkan akreditasi.

Nuraini menjelaskan pemberian status akreditasi, khususnya untuk PAUD, bukan kewenangan kecamatan, melainkan menjadi domain pemerintah pusat yang skalanya nasional. Dengan memperoleh status akreditasi B, PAUD sudah layak menampung anak-anak seusia playgroup.

Dijelaskan, PAUD memiliki tiga tingkatan pendidikan, yakni TK, Playgroup, dan Taman Penitipan Anak (TPA). Pendidikan TK umumnya sudah bersifat formal, sedangkan PG dan TPA masih lebih banyak bersifat non formal. “Cuma kebanyakan orang tahunya PAUD itu playgroup, padahal termasuk TK juga,” ujar dia.

Pemerintah saat ini mengakui pentingnya keberadaan PAUD dalam rangka mengembangkan kemampuan anak sejak usia dini. Menurut Nuraini, jika anak dibiarkan dalam keluarga (tidak disekolahkan, red.), tentu perkembangannya akan terganggu. Padahal, usia anak 0-6 tahun adalah saat paling penting untuk membentuk kepribadian dan mengasah kecerdasan anak.  

Dia melaporkan, di Beduri, banyak anak usia dini (3-4 tahun) yang masih berada di rumah. Yang lebih memprihatinkan, kata dia, saat ini banyak ibu-ibu yang menjadikan HP sebagai “pengasuh” anak. Akhirnya, banyak anak yang kecanduan HP dan dia akan menangis jika tidak diberi HP. Seorang anak yang belum sekolah di usia dini juga cenderung egois dan mudah tersinggung.

Namun, dengan menyekolahkan di PAUD, anak-anak akan diajari bagaimana bersosialisasi. Mereka akan bermain bersama, jiwa sosialnya terbentuk dengan sendirinya. Guru pemimbing tinggal mengarahkan bagaimana untuk saling berbagi, saling menghormati, dan saling mengasihi. “Jadi PG itu tempatnya anak bermain berkelompok, bukan untuk belajar nulis atau berhitung,” kata Nuraini.

Lagipula, katanya, jika anak sekolah di PAUD akan memperoleh dana bantuan operasional dari pemerintah senilai Rp600 ribu/anak/tahun untuk pengadaan alat permaian edukatif dan buku-buku pelajaran. Bantuan itu harus dimanfaatkan. Caranya, dengan menyekolahkan anak ke PAUD, sehingga dana itu bisa cair.

Soal Perizinan
Sementara itu, terkait dengan izin operasional PG Aminah, dia menjelaskan semua perizinan saat ini melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).  Namun, dia menyatakan siap membantu PG Aminah untuk mengurus kelengkapan datanya. Dia pun meminta kerjasamanya dari pihak kelurahan agar memberikan data anak usia 4-6 tahun yang ada di wilayah Kelurahan Beduri. “Ini penting untuk kelengkapan administrasi,” katanya.

Juga kepada Dinas Kesehatan melalui Kader Posnyandu serta para Ketua RT di Kelurahan Beduri agar bersedia membantu memberikan data anak usia dini. Kerjasama ini harus dilakukan sehingga target kuota 12 anak untuk tahun depan bisa terpenuhi.

Suyitno
Menanggapi permintaan Penilik PAUD itu, perwakilan dari Kelurahan Beduri, Suyitno, menyatakan siap membantu PG Aminah demi kemajuan satu-satunya PG yang ada di wilayah Kelurahan Beduri. Suyitno juga mengingatkan pentingnya PAUD, karena dari sana watak dan kepribadian anak umumnya terbentuk. Dia mengingatkan agar tenaga pengajarnya lebih bersabar. Karena sekali salah dalam mendidik anak usia dini akan berakibat tidak baik di kemudian hari.

Pihak kelurahan, katanya, juga siap membantu kelengkapan administrasi yang dibutuhkan untuk persyaratan izin operasional PG Aminah. “Untuk data-data yang diminta, Insya Allah di kelurahan tersedia dan kami siap memberikannya,” kata Suyitno. ***



Untuk informasi lain di Beduri buka DISINI