![]() |
| Sarmin, SPd. |
Pada poin (a) disebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar dilakukan di rumah masing-masing bagi peserta didik pada semua jenjang
dan jenis pendidikan mulai tanggal 17 Maret 2020 hingga tanggal 30 Maret 2020.
Oleh karena itu, Bupati menginstruksikan kepada Dinas
Pendidikan bersama Kementerian Agama, Camat dan Kepala Desa/Lurah untuk mengawasi dan
memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung.
Atas diterbitkannya kebijakan Bupati tersebut, Beduri Berkarya telah mewawancarai Sarmin, SPd., Kepala
Sekolah SDN Kalimalang, Sukorejo, Ponorogo, dalam rangka meminta tanggapan dan
masukan terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di rumah selama terjadi
wabah virus Corona di Indonesia.
Kepada Beduri Berkarya (20/3/2020), Sarmin mengaku sangat mendukung
kebijakan Bupati itu dalam rangka menyelamatkan warga Ponorogo dari bahaya
COVID-19. Namun, dia menilai, agar kebijakan tersebut berjalan efektif dan
tepat sasaran, pemerintah perlu memberikan
kompensasi bagi siswa yang melaksanakan kegiatan belajar di rumah
masing-masing.
Lantas, apa saja kompensasi yang dibutuhkan?
Kompensasi pertama, yang perlu diberikan pemerintah kepada
siswa, menurut Sarmin, adalah fasilitas
internet gratis. Hal ini penting, karena tidak semua wali murid mampu
membelikan anaknya paket internet yang mahal untuk mendukung kegiatan belajar
di rumah. “Bisa nggak pemerintah menyediakan kuota internet kepada siswa yang
diliburkan?,” tanya Sarmin.
Kepala Sekolah menegaskan, yang dibutuhkan orangtua saat ini
adalah paket internet gratis. Dia mencontohkan, untuk bisa men-download materi pelajaran yang diberikan
sekolah, butuh paket internet yang besar. Karena paket internet mahal, lanjut
dia, tidak sedikit orantua/wali murid yang lebih memilih anaknya tetap sekolah
ketimbang belajar di rumah, namun tetap dalam pengawasan ketat dari pihak
sekolah.
Sementara bagi yang mampu membelikan paket internet, apakah
sudah selesai permasalahannya? Belum tentu. Menurut dia, jika orangtua tidak
bisa mengawasi anak-anaknya bermain internet di HP, justru mereka tidak
menggunakan paketan internet untuk belajar melainkan untuk bermain game.
Selain kompensasi berupa pembelian kuota internet, menurut
Sarmin, pemerintah bisa menyediakan
buku-buku pelajaran, baik bisa didapat dengan membayar atau secara
cuma-cuma. Dikatakan, tidak semua wali
murid memiliki perangkat gadget untuk
mendukung kegiatan belajar mengajar di rumah.
Apalagi, dia menyebutkan, wali murid yang memiliki HP
android di sekolah tempat dia mengajar tidak lebih dari 40 persen. Dari 40 wali
murid yang ada di satu kelas, katanya, yang memiliki HP android hanya sekitar
15 orang. Untuk itu, ketersediaan buku pelajaran menjadi sangat penting. "Buku pelajaran yang disediakan hanya untuk selama masa belajar di rumah," ujar Sarmin.
![]() |
| Kegiatan Penyemprotan di Kelas |
Kompensasi ketiga, khusus untuk sekolah, pemerintah menyediakan peralatan kesehatan,
seperti alat penyemprotan, wastafel untuk cuci tangan, dan lainnya. Menurut
Sarmin, jika suatu daerah/tempat ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)
maka segala keperluan terkait penanganan KLB tersebut menjadi tanggungjawab
pemerintah.
Dia mencontohkan, soal penyemprotan sekolah seharusnya
menjadi tanggungjawab pemerintah, karena sekolah ditetapkan sebagai KLB
sehingga siswa harus diliburkan. Namun, pihak sekolah tidak terlalu menuntut pemerintah,
karena masih bisa mengajak instansi lain untuk melakukan penyemprotan bersama
di sekolahnya. “Beruntung di masyarakat kita masih ada budaya gotong royong,”
kata Sarmin.
Terakhir, ada kompensasi berupa pemeriksaan kesehatan gratis dari pemerintah kepada anak didik.
Anak-anak yang tidak sekolah – jika tidak ada pengawasan ketat dari orangtua –
justru sering bermain di luar rumah. Itu
artinya, sangat riskan bagi anak-anak yang bermain di luar selama masa
‘karantina’. Pemeriksaan itu penting untuk memastikan anak masih dalam keadaan
‘seteril’.
Dengan adanya kebijakan belajar di rumah, dia berharap
kepada seluruh orangtua untuk mengawasi kegiatan anak-anaknya di rumah. Sementara bagi siswa yang tidak didampingi
orangtua (ayah/ibu) karena orangtua harus bekerja di luar negeri. Kepada pihak
saudara yang dititipi anak tersebut agar memberikan perlakuan yang sama seperti
anak sendiri.
Lurah Beduri: Pemerintah Fokus pada
Penanganan COVID-19
![]() |
| Kantor Pemkab Ponorogo (https://id.wikipedia.org) |
Sementara itu, menanggapi usulan Kepala SDN Kalimalang
tersebut, Lurah Beduri, Supatmi, melalui pesan Whatsup, menyatakan Pemerintah
Kabupaten Ponorogo sangat serius dalam menangani permasalahan mewabahnya virus
Corona di wilayah Ponorogo.
Termasuk, memberikan perhatian penuh terhadap anak-anak
sekolah yang saat ini diliburkan agar mereka terhindar dari kemungkinan
terjangkit COVID-19 yang dikenal sangat ganas itu. “Kami akan melakukan upaya
maksimal untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19, khususnya di kalangan
pelajar,” tegas Supatmi.
Lurah Beduri menyampaikan bahwa dalam suasana genting seperti
saat ini pemerintah lebih fokus pada penanganan bagaimana virus tersebut bisa
teratasi sampai tingkatan paling bawah. Dikatakan, jika dalam perjalanan waktu
penanganan virus Corona masih belum juga reda, pemerintah akan mempertimbangkan
usulan tersebut.
Karena sekolah diliburkan dan anak-anak belajar di rumah, pemerintah
mempercayakan sepenuhnya tanggungjawab anak-anak kepada orangtua masing-masing.
Supatmi optimistis, kerjasama yang baik antara pemerintah, pihak sekolah, wali
murid, dan para siswa akan terus terbina, demi mewujudkan Ponorogo yang bebas
COVID-19.
Sementara terkait dengan internet gratis, dia menyampaikan pemerintah
pusat sudah memberi wadah dengan cara beli di aplikasi My Telkomsel dan akan
mendapatkan kuota 30Gb secara gratis. Namun, lanjut dia, fasilitas ini hanya
untuk akses belajar di Ruang Guru dan
tidak untuk keperluan yang lain.
Supatmi berharap siswa atau wali murid dapat memanfaatkan fasilitas
tersebut agar kegiatan belajar di rumah
bisa berjalan lancar. Dia mengingatkan fasilitas ini hanya untuk akses belajar
di Ruang Guru. “Ya itu sedikit mungkin bisa meringankan orang tua dalam
mendidik anaknya selama belajar dirumah,” Lurah berharap. ***





Tidak ada komentar:
Posting Komentar