Selasa, 21 Januari 2020

Tahun 2019, Play Group Aminah Raih Status Akreditasi BAN PAUD

Partisipasi PG Aminah dalam rangka Hari Anak Nasional Kecamatan Ponorogo

Sebuah prestasi gemilang baru saja diraih Play Group (PG) Aminah Beduri. Pada 2019, Sekolah PAUD kebanggaan warga Beduri itu naik status menjadi Play Group Terakreditasi B.  Kepastian kenaikan peringkat PG Aminah diperoleh setelah Badan Akreditasi Nasional (BAN) mengumumkan SK Penetapan Status Akreditasi PAUD Tahun 2019. 

Dwi Setyowati, salah satu tenaga pengajar di PG Aminah, di Beduri (5/12), mengaku sangat bangga dengan prestasi yang diraih PG Aminah. Dikatakan, prestasi ini tidak terlepas dari kerja keras semua pihak, terutama guru dan  wali murid, yang ingin bersama memajukan sekolahan ini. “Dalam lima tahun terakhir puncaknya memperoleh akreditasi B dari BAN pusat,” ujar Dwi.

Dengan memperoleh status terakreditasi B berarti PG Aminah sudah memenuhi standar kualitas pendidikan yang ditetapkan pemerintah melalui BAN. Menurut Dwi, bukan jamannya lagi seorang meremehkan keberadaan Play Group, karena pengelolaan administrasinya sudah seperti pengelolaan Sekolah TK. Misalnya, setiap hari harus menyusun RKH dan punya kurikulum sendiri. 

“Jadi jelas, dalam satu tahun ke depan mau apa, itu sudah direncanakan sejak awal,” tuturnya.

Meskipun demikian, Dwi mengakui masih banyak yang harus dibenahi. Dia mengakui, fasilitas yang dimiliki PG Aminah masih sangat minim. Misalnya, belum ada kamar mandi, gudang, dapur, dan lain-lain. 

Padahal, katanya, fasilitas-fasilitas itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan Akreditasi A. Selain minimnya fasilitas umum, dari sisi administrasi juga masih perlu perbaikan, terutama terkait dengam tupoksi guru.

Sementara itu, Dwi melaporkan perkembangan jumlah siswa PG Aminah dari tahun ke tahun mengalami pasang surut (fluktuatif).

Meskipun demikian, setiap tahun jumlah siswa di taman bermain ini selalu diatas 12 siswa. Itu artinya, PG Aminah sudah memenuhi standar minimal jumlah siswa, sebagaimana yang dipersyaratkan Dinas Pendidikan. Seperti tahun ini, jumlah siswa turun dibanding tahun 2018. “Tahun 2018 dapat 20 siswa, tahun ini dapat 13,” katanya.

Mengapa ada syarat minimal jumlah siswa? Menurut Dwi, 12 siswa adalah persyaratan minimal untuk mendapatkan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP). Sejak 2017, PG Aminah selalu mendapatkan BOP dari Diknas Ponorogo.

Selain dana BOP, pemerintah juga menganggarkan dana insentif dari APBD yang diberikan kepada tenaga pengajar PG Aminah yang terdaftar dan sudah memiliki masa pengabdian selama minimal 2 tahun. “Sayang, dana ini tidak bisa turun setiap tahun, seperti umumnya dana hibah yang tidak bisa diberikan secara terus menerus,” pungkas Dwi.

Dwi Setyowati
Namun, dana BOP itu juknisnya sudah sangat jelas. Hanya untuk pengadaan alat permainan edukatif (APE) dan buku-buku pelajaran. Dia menegaskan tidak boleh untuk pembelian yang lain, seperti peralatan elektronik atau perkakas mebeler. 

Sesuai juknis, guru berhak mendapatkan uang transport bulanan dari dana BOP yang besarannya ditentukan oleh Diknas.

Dwi mengaku keuangan PG Aminah cukup minim dan tidak bisa mengandalkan biaya operasional hanya dari SPP siswa sebesar Rp30 ribu/bulan. Apalagi, ada kegiatan makan bersama sebanyak 4 kali/bulan. Hal ini tentunya semakin menambah beban keuangan PG Aminah.

Namun, saat ini ada kerjasama yang baik dari wali murid, dimana untuk kegiatan makan bersama diserahkan ke wali murid. “Artinya, sudah tidak lagi menjadi tanggungan sekolahan, melainkan sudah diserahkan ke masing-masing wali murid,” katanya.

Mencari donatur juga bukan perkara mudah. Sehingga untuk mengatasi minimnya dana, pihak sekolahan mensiasatinya dengan mengadakan rekreasi atau kegiatan amal secara rutin (setiap hari Rabu).    

Tapi, Dwi mengaku bangga, karena dengan segala keterbatasannya, siswa-siswa PG Aminah tetap bisa berprestasi di tingkat kecamatan kota, bahkan tingkat kabupaten.

Seperti pernah menjadi Juara I Lomba Estafet Air Tingkat PAUD di Kecamatan Ponorogo. Juga, pernah menjuarai Lomba Tahfidz dan Lomba Mewarnai Tingkat Kecamatan dengan meraih masing-masing Juara 2 dan Juara 3.

Sementara itu, untuk meningkatkan jumlah siswa, kata Dwi, pihak sekolah telah melakukan berbagai macam promosi. Misalnya, dengan mencetak brosur, datang langsung ke kegiatan Posyandu, atau berkeliling menyebarkan brosur.

Namun, diakui, upaya yang dilakukannya kurang berhasil karena sebagian besar orang tua saat ini lebih memilih menyekolahkan anaknya langsung ke TK.*** 























Tidak ada komentar:

Posting Komentar