![]() |
Partisipasi PG Aminah dalam rangka
Hari Anak Nasional Kecamatan Ponorogo
|
Sebuah prestasi gemilang baru saja diraih Play Group (PG) Aminah Beduri. Pada 2019, Sekolah PAUD kebanggaan warga Beduri itu naik status menjadi Play Group Terakreditasi B. Kepastian kenaikan peringkat PG Aminah diperoleh setelah Badan Akreditasi Nasional (BAN) mengumumkan SK Penetapan Status Akreditasi PAUD Tahun 2019.
Dwi Setyowati, salah satu tenaga
pengajar di PG Aminah, di Beduri (5/12), mengaku sangat bangga dengan prestasi
yang diraih PG Aminah. Dikatakan, prestasi ini tidak terlepas dari kerja keras
semua pihak, terutama guru dan wali
murid, yang ingin bersama memajukan sekolahan ini. “Dalam lima tahun terakhir
puncaknya memperoleh akreditasi B dari BAN pusat,” ujar Dwi.
Dengan memperoleh status terakreditasi
B berarti PG Aminah sudah memenuhi standar kualitas pendidikan yang ditetapkan
pemerintah melalui BAN. Menurut Dwi, bukan jamannya lagi seorang meremehkan
keberadaan Play Group, karena pengelolaan administrasinya sudah seperti
pengelolaan Sekolah TK. Misalnya, setiap hari harus menyusun RKH dan punya
kurikulum sendiri.
“Jadi jelas, dalam satu tahun ke depan mau apa, itu sudah direncanakan sejak awal,” tuturnya.
“Jadi jelas, dalam satu tahun ke depan mau apa, itu sudah direncanakan sejak awal,” tuturnya.
Meskipun demikian, Dwi mengakui masih
banyak yang harus dibenahi. Dia mengakui, fasilitas yang dimiliki PG Aminah
masih sangat minim. Misalnya, belum ada kamar mandi, gudang, dapur, dan
lain-lain.
Padahal, katanya, fasilitas-fasilitas itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan Akreditasi A. Selain minimnya fasilitas umum, dari sisi administrasi juga masih perlu perbaikan, terutama terkait dengam tupoksi guru.
Padahal, katanya, fasilitas-fasilitas itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan Akreditasi A. Selain minimnya fasilitas umum, dari sisi administrasi juga masih perlu perbaikan, terutama terkait dengam tupoksi guru.
Sementara itu, Dwi melaporkan
perkembangan jumlah siswa PG Aminah dari tahun ke tahun mengalami pasang surut
(fluktuatif).
Mengapa ada syarat minimal jumlah
siswa? Menurut Dwi, 12 siswa adalah persyaratan minimal untuk mendapatkan
Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP). Sejak 2017, PG Aminah selalu mendapatkan
BOP dari Diknas Ponorogo.
Selain dana BOP, pemerintah juga menganggarkan
dana insentif dari APBD yang diberikan kepada tenaga pengajar PG Aminah yang
terdaftar dan sudah memiliki masa pengabdian selama minimal 2 tahun. “Sayang,
dana ini tidak bisa turun setiap tahun, seperti umumnya dana hibah yang tidak
bisa diberikan secara terus menerus,” pungkas Dwi.
![]() |
| Dwi Setyowati |
Sesuai juknis, guru berhak mendapatkan uang transport bulanan dari dana BOP yang besarannya ditentukan oleh Diknas.
Dwi mengaku keuangan PG Aminah cukup
minim dan tidak bisa mengandalkan biaya operasional hanya dari SPP siswa
sebesar Rp30 ribu/bulan. Apalagi, ada kegiatan makan bersama sebanyak 4
kali/bulan. Hal ini tentunya semakin menambah beban keuangan PG Aminah.
Namun, saat ini ada kerjasama yang
baik dari wali murid, dimana untuk kegiatan makan bersama diserahkan ke wali
murid. “Artinya, sudah tidak lagi menjadi tanggungan sekolahan, melainkan sudah
diserahkan ke masing-masing wali murid,” katanya.
Mencari donatur juga bukan perkara
mudah. Sehingga untuk mengatasi minimnya dana, pihak sekolahan mensiasatinya
dengan mengadakan rekreasi atau kegiatan amal secara rutin (setiap hari
Rabu).
Tapi, Dwi mengaku bangga, karena dengan segala keterbatasannya, siswa-siswa PG Aminah tetap bisa berprestasi di tingkat kecamatan kota, bahkan tingkat kabupaten.
Tapi, Dwi mengaku bangga, karena dengan segala keterbatasannya, siswa-siswa PG Aminah tetap bisa berprestasi di tingkat kecamatan kota, bahkan tingkat kabupaten.
Seperti pernah menjadi Juara I Lomba
Estafet Air Tingkat PAUD di Kecamatan Ponorogo. Juga, pernah menjuarai Lomba
Tahfidz dan Lomba Mewarnai Tingkat Kecamatan dengan meraih masing-masing Juara
2 dan Juara 3.
Sementara itu, untuk meningkatkan
jumlah siswa, kata Dwi, pihak sekolah telah melakukan berbagai macam promosi.
Misalnya, dengan mencetak brosur, datang langsung ke kegiatan Posyandu, atau
berkeliling menyebarkan brosur.
Namun, diakui, upaya yang dilakukannya
kurang berhasil karena sebagian besar orang tua saat ini lebih memilih
menyekolahkan anaknya langsung ke TK.***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar