![]() |
| Web Admin |
Termasuk dalam menghadapi wabah covid-19. Betul, penyakit itu datangnya dari Allah, tapi sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh petantang-petenteng ‘menantang’ penyakit dengan berkata: “Semua penyakit datangnya dari Allah. Kita menghindar pun kalau takdirnya kena (corona) ya kena saja”.
Itu tawakal yang tidak pakai ilmu, alias nekad namanya. Yang benar adalah ikhtiar sambil terus berdoa, agar kita terhindar dari penyakit virus yang sangat mematikan itu. Selebihnya serahkan semuanya kepada Yang Maha Berkehendak, Allah SWT.
Sedikit flashback ke sejarah Islam. Di masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. juga pernah terjadi wabah. Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan, sahabat Umar pernah mengurungkan niatnya berkunjung ke Kota Syam, setelah mendengar kota itu sedang terjangkit wabah penyakit.
Sang Khalifah lebih memilih batal berkunjung ke kota Syam setelah ingat Sabda Rasulullah SAW: “'Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, janganlah kalian mendatanginya. (HR Muslim).
Sahabat Abu Ubaidah kemudian bertanya pada Umar: "Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?" Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, Umar lantas menjawab: “Ya, kita lari dari takdir Allah yang satu, kepada takdir Allah yang lain".
Kurang apa alimnya Umar bin Khattab r.a. Kurang apa berani dan tegasnya beliau, hingga iblis pun sangat takut bertemu dengan sahabat Nabi yang satu ini. Beliau amirul mukminin dan 1 diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Tapi, beliau tetap menghindar ketika ada wabah penyakit.
Bagaimana dengan kita, yang amal akhiratnya masih berantakan dan surga juga belum jelas. Tapi malah nekad tidak mengikuti anjuran dokter dan seruan pemerintah daerah masing-masing --- karena percaya pada Allah, tapi tanpa disertai ilmu.
Sekarang, yuk.. kita pindah ke tetangga sebelah yang jadi paranoid sejak ada wabah corona.
![]() |
| https://cirebon.tribunnews.com |
Alih-alih jaga diri dari penyebaran virus corona, sampai-sampai dia tidak mau bergaul dengan tetangga, mengunci diri, dan tidak mau keluar rumah, meski hanya sebentar untuk shalat berjamaah di mushola/masjid. Padahal, dia tinggal di sebuah wilayah yang ditetapkan aman dari penyebaran virus corona. Itu juga ketakutan yang tidak didasari ilmu.
Dokter dan para ahli sudah menjelaskan, ibaratnya sampai mulut mereka berbusa-busa. Toh, masih banyak warga masyarakat yang belum paham soal penyebaran/penularan covid-19. Puncaknya, di suatu daerah, sampai ada kasus jenazah pasien corona ditolak warga. Sangat ironis!
Kecuali sebuah daerah ditetapkan sebagai zona merah, karena beberapa warganya sudah dinyatakan positif tertular corona. Itu baru bisa menutup diri (personal lockdown)!
Inilah pentingnya sosialisasi, edukasi, dan pemahaman kepada masyarakat terkait virus corona ini.
Termasuk, melakukan penyemprotan dengan desinfektan serta membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang virus, kuman, dan bakteri. Tidak kalah penting, mulailah menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
![]() |
| Warga RT 04/03 Tulakan, Beduri, Ponorogo, bersiap melakukan penyemprotan desinfektan (4/4/2020) |
Akhirnya, mari kita tetap berikhtiar sambil berdo’a semoga Allah SWT segera angkat covid-19 dari bumi Nusantara. Dan kepada saudara kita sebangsa dimana pun berada, yang sudah dinyatakan positif dan sedang menjalani perawatan, semoga segera disembuhkan penyakitnya. Amin YRA.***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar